aku merasa lucu dan begitu bangganya. andaikan kita tahu cara mencari uang itu ternyata cukup mudah.mungkin semua orang akan merasa kaya dan menjadi congkaknya. aku merasa lucu ketika aku seolah terhipnotis oleh retorika verbal yang cukup mempersuasi ku, dari seorang pria kurus berambut gondrong, yang mencari uang dengan cara yang sangat sederhana dan cukup briliant, melebihi teori terbaik dari sebuah botol aqua, bungkus rokok, nasi bungkus, lilin menyala, ataupun tikus terlindas mobil, yang hanyalah teori konyol yang membutuhkan sebuah validasi, bahwa teori tersebut bisa dijadikan pegangan dalam berhubungan, bodoh sekali! seketika mata ini tertuju pada pengamen bus kota yang menurutku penampakan fisik sangatlah tidak menarik, tapi aku menyukai tehnik munculnya yang begitu outstanding, yang mengakibatkan mata ini enggan beralih walaupun untuk sesaat.
“selamat malam mas-mas, mba-mba, ade-ade, kaka-kaka. ijinkan saya meminta waktunya untuk menjual produk yang saya bawa ini.”
disaat bersamaan fikiran saya ikut berceletuk ” semakin banyak saja usaha MLM di negeri ini, dengan cara pemasaran yang aneh-aneh, termasuk si mas INI nih…”
lalu si pengamen melanjutkan kembali ucapannya “kebetulan sekali, saya tidak membawa apa-apa.”
niat jualan gak sih sebenernya (ribet deh)
“dan sangat kebetulan sekali barangnya ada disini.”
sekonyong-konyongnya sipengamen menghampiriku, aku terkesima dibuatnya sepertinya dia mau menjualku, akukah barangnya? ternyata sipengamen mengambil sesuatu dibawah sepatuku, dalam keadaan TERINJAK. jujur saja aku merasa kaget ketika tangannya menyentuh sepatuku, tetapi rasa kaget itu hilang bersamaan dengan ucapan maafnya, seraya mengambil bungkus permen mentos yang terselip dibawah sepatuku itu.
kemudian ia berdiri dengan sigap, seraya berucap dengan penuh analogi, “inilah barang yang saya jual harganya tidak mahal hanya seribu rupiah saja, nama barang ini adalah akhlak, sembari menyodorkan bungkus mentos akhlak versinya, yang disodorkan ke tiap wajah penuh heran seisi bus ini, kami merasa si pengamen memang sudah sinting, bertindak seperti orang stress. hanya orang bodoh yang mau membeli bungkus permen itu seharga seribu, dan dugaanku tepat sekali, tak satupun orang yang memberinya.kemudian si pengamenpun tersenyum dan kembali ke posisi semula yaitu center of interest bagi para pengamen yang biasa berdiri. lalu kemudian dia berujar lagi…
“akhlak ini saya turunkan menjadi lima ratus rupiah saja, cukup murah bukan? ayo jangan ragu-ragu untuk membelinya.”
aku berujar dalam hati benar-benar sinting nih orang. dan sekali lagi ia sodorkan bungkus permen mentos yang dinamakan akhlaq dengan harga diskon 50% dari seribu rupiah. LIMA RATUS RUPIAH SAJA. aku cukup tega hati untuk tidak mau memberinya, tapi si pengamen cukup rendah hati menerima perlakuanku, sekali lagi tidak laku juga. kemudian si pengamen berteaterikal dengan gaya monolog, memerankan 2 karakter sekaligus, dan berbicara soal akhlaq yang semakin tidak ada harganya itu, menyindir secara tajam tiap pribadi yang ada didalam kuda mesin ini, betapa kita tidak memiliki hati nurani lagi, ketika kita lebih memaklumi para koruptor yang secara tega dan blak-blakan melakukan manipulasi data untuk kepentingan pribadinya sendiri, betapa akhlaq kita begitu murahnya ketika kita melakukan pencurian secara massal, yang mengorbankan kaum lemah untuk kepentingan diri pribadi, betapa negara ini akhlaq begitu tidak berharga lagi, bahkan ketika dijual dengan harga murah sekalipun. karena memang inilah mental manusia di negeri ini. murahan dibalut dengan keeleganan. dan sipengamen tetap melakukan monolog, kami disuguhkan hiburan yang begitu diluar dari kebiasaan pengamen kebanyakan, diluar steriotipenya. aku terkesima dibuatnya, aku tersudut dengan ungkapan-ungkapan lugas tanpa tedeng aling-aling yang disampaikan dengan begitu lugunya, aku terkesima bahwa aku salah menilai, dia tidaklah bodoh, stress ataupun sinting. melainkan dia adalah seorang aktor yang ahli dalam retorika yang begitu briliantnya, dan aku mengakui itu, aku baru saja terkecoh. aku tersenyum melihatnya dan si pengamen melihatku dengan tatapan sayunya mengharap belas kasihan namun tetap gaya jual mahalnya. dan aku benar-benar telah jatuh hati dibuatnya. ketika aku terbuai kembali aku disadarkan dengan dia kata-kata terakhirnya, sekali lagi saya jual, mungkin anda semua tidak mau membeli dikarenakan anda masih memiliki akhlaq, mungkin anda bisa membelikan untuk lainnya yang membutuhkan seperti kucingnya mungkin, ayamnya mungkin atau apapun itu agar agar semua di bumi ini tetap memiliki akhlaq seperti anda, yang sudah memiliki akhlaq ini yang tentunya tidak perlu membelinya untuk diri sendiri.aku tersenyum dibuatnya, betapa pintarnya ia mencari uang. sekarang sipengamen memperlihatkan wajah lainnya, wajah yang biasa-biasa saja tanpa pengharapan. secara tersirat begitu tampak keikhlasan hatinya kalo akhirnya kita bisa memberikan berapa saja yang kita mau. namun aku tersentuh dengannya, aku menyukainya. mungkin saja sama dengan orang yang lainnya, terlihat olehku tiap pribadi menyodorkan uang padanya kini, padahal awalnya mereka sama saja dengan ku, tidak sudi memberinya uang walau sepeserpun. namun si pengamen mampu menghipnotisku dengan virus cintanya, permainan kata-kata bak Gibran, mampu membuatku tersentuh, sampai tanpa sadar, kuberinya dia sepuluh ribu rupiah, uang rokokku. dan sipengamen tersenyum padaku. sepertinya banyak sekali ia mendapatkan uang malam ini, sialnya mulutku mulai berasa asem karena tidak menghisap rokok. aku terbuai, sial sekali!!
Pengalaman Nico – panggilan akrabnya – pernah diving di kawasan Pulau Rakata terdapat karang yang berbentuk kipas besar, juga ada muncul gelembung-gelembung air yang keluar dari perut Gunung Krakatau Purba. “Sampai kini masih menjadi misteri dari mana keluarnya gelembung-gelembung itu? Juga apakah gelembung itu gas atau lava gunung, ini yang masih menjadi tanda tanya, karena belum pernah mendapat penjelasan secara logika,” ungkap pemerhati pariwisata dari Bandung.
Selain menyelam, wisatawan juga dapat memancing. “Memang jumlah wisatawan asing, terutama yang dapat ke Krakatau masih sangat terbatas. Dikarenakan promosi ke luar negeri yang sangat kurang, juga tidak setiap saat bisa datang ke Krakatau. Karena ketika angin barat datang sekitar bulan Nopember hingga Januari, maka nelayan tak berani mengantarkan wisatawan. Mereka nggak mau ambil risiko,” tandasnya.
Tips Perjalanan





